Jumat, 27 Februari 2009

Menggabungkan Berkas PDF dengan Une PDF

Artikel serupa pernah saya unggah ke situs linux.or.id, hanya saja ketika itu tidak saya sertai gambar, sehingga tidak ada salahnya kembali saya unggah di sini dengan gambar pelengkap.


Ada kalanya kita harus menggabungkan berkas-berkas dengan format PDF untuk keperluan tertentu, misalnya di kampus almamater penulis yang mewajibkan para mahasiswa yang menyelesaikan Tugas Akhirnya untuk menyertakan juga laporan dalam format PDF. Di mana laporan dari Bab I (Pendahuluan) sampai Bab V (penutup) dijadikan dalam satu berkas PDF saja. Saya yakin sebagian besar pasti membuat laporan dengan cara tiap bab dijadikan satu berkas dokumen (umumnya *.doc), lalu tiap bab dijadikan satu berkas PDF. Hanya saja, untuk mengubah berkas dokumen menjadi PDF tidak akan saya bahas di sini (dulu saya membuat laporan dengan OpenOffice.org (OOo), yang secara otomatis memiliki fasilitas untuk meng-ekspor ke format PDF. Karena itu gunakan saja OOo untuk mengetik dokumen anda)


UnePDF

Lalu bagaimana cara menggabungkan berkas PDF antar bab tersebut? Ada banyak perangkat lunak yang bisa dipakai, tetapi kali ini saya memilih UnePDF. Mengapa? Karena selain free (bebas dan juga gratis), UnePDF juga tersedia untuk Linux maupun Windows.

Anda dapat mengunduh UnePDF dari alamat berikut:

UnePDF tersedia dalam format terkompresi *.tar.gz (untuk Linux) dan *.zip (untuk Windows). Tak perlu kuatir, UnePDF juga bisa dikatakan portable, karena kita tidak perlu melakukan instalasi. Setelah berkas *.tar.gz atau *.zip kita ekstrak, kita bisa langsung menjalankannnya dengan melakukan klik ganda terhadap berkas biner hasil ekstraksi.

Cara menggabungkan berkas PDF dengan UnePDF

Contoh berikut menggunakan UnePDF yang saya jalankan di atas sistem operasi Linux Mint 4.0 XFCE Edition, tetapi penggunaan di atas distro Linux lain maupun Windows juga tidak jauh berbeda.

  1. Jalankan UnePDF

  1. Pilih berkas-berkas PDF yang akan digabungkan dengan meng-klik tombol Add

  1. Tentukan lokasi berkas penyimpanan maupun nama berkas PDF hasil penggabungan

  1. Untuk memulai penggabungan, klik tombol Merge

  1. Tunggu beberapa saat. Saat proses penggabungan usai akan muncul dialog seperti Gambar di bawah ini.

Berkas gabungan siap untuk digunakan.


Dengan UnePDF, kita tak perlu mengeluarkan kocek dalam-dalam hanya untuk membeli perangkat lunak untuk menggabungkan berkas PDF dan juga tak perlu melakukan pembajakan (emangnya sawah kok dibajak)

Ever Since The World Began

An old hit of Survivor. I often use some lines of its lyrics as my favorite quotes. You know why? I guess the lyrics make me realize that we are nothing. There's a plan of God that we never know what it is. But we still we have to try as hard as we can Although it is not a religious song, it is actually a love song. So here they are:


Ever Since The World Began


I'll never know what brought me here

As if somebody led my hand.

It seems I hardly steer,

My course was planned

And destiny it guides us all,

And by its hand we rise and fall

But only for a moment

Time enough to catch our breath again


And we're just another piece of the puzzle

Just another part of the plan

How one live touches the other

Is so hard to understand

Still we walk this road together

We try and go as far as we can

And we have waited for this moment in time

Ever since the world began


Taking in the times gone by

We wonder how it all began

We'll never know and still we try to understand

And even though the seasons change

The reason shall remain the same

It's love that keeps us holding on

Till we can see the sun again


And we're just another piece of the puzzle

Just another part of the plan

And we have waited for this moment in time

Ever since the world began


And I stand alone, a man of stone

Against the driving rain

And the night – it's got your number

And the wind – it cries your name

And we search for clues, win or lose

In this we're all the same

The hope still burns eternal

We're the keeper of the flame


And we're just another piece of the puzzle

Just another part of the plan

How one live touches the other

Is so hard to understand

Still we walk this road together

We try and go as far as we can

And we have waited for this moment in time

Ever since the world began


Written by Jim Peterik – Franklin Sullivan

As performed by Survivor

*)The bold-italic words are my faves

Selasa, 24 Februari 2009

Saya dan Ibu

24 Februari 2009, sekitar pukul 05.00

Saya memutar MP3 Player saya. Ketika akhirnya terdengar lagu Mama Don't You Cry milik Steelheart, mata saya kembali berkaca-kaca. Untuk pertama kalinya saya nyaris menangis mendengarkan lagu tersebut.

Dan kali ini saya memang ingin bercerita tentang ibu saya. Ya, saya memang lebih akrab dengan Ibu dibandingkan dengan Bapak saya. Mungkin karena saya adalah anak yang paling kecil. Kalau pergi-pergi, saya juga yang paling sering diajak. Pernah ketika saya masih kecil sekali, belum sekolah, Ibu berangkat ke pasar (naik andong, maklum wong ndesa). Saya tidak diajak. Seketika itu juga saya langsung menangis sekeras-kerasnya.

Ketika saya SD, Ibu menjahit sendiri sebuah celana panjang (buat dipakai tidur) dari kain bekas bungkus tepung terigu. Anehnya saya mau-mau saja memakainya. Sering pula Ibu membuatkan saya sirop (benar-benar sirop buatan sendiri, bukan sirop beli di toko).

Pernah pula saya diajak pergi oleh dua orang Bulik saya ke tempat nenek Buyut karena melihat saya pulang sekolah terlihat di rumah sendirian, padahal ketika itu Ibu sedang mencuci bpakain di sungai (sekali lagi, saya memang orang desa, jadi harap maklum, lagipula ketika itu belum kenal yang namanya mesin cuci). Ketika saya melewati jembatan, saya melihat di mana tempat Ibu mencuci.

Ketika saya kelas 4 SD (tahun 1992), Bapak mendapatkan rezeki untuk bisa berangkat naik haji. Sebenarnya ketika itu Bapak ingin berangkat berdua bersama Ibu, tetapi karena saya terlihat keberatan, Bapak akhirnya berangkat sendiri.

Dan semua kenangan indah itu mulai terhenti saat saya kelas 6 SD. Bulan Agustus 1993 (saya lupa tanggalnya), Ibu sakit keras. Karena saya termasuk anak yang tak pernah lepas dari Ibu, Bapak sampai meminta izin kepada saya senbelum membawa Ibu ke Rumah Sakit. Hanya saja saya tidak ikut mengantarnya. Saya juga belum pernah menengoknya karena Bapak lebih mementingkan sekolah saya.

Flashback
15 Agustus 1993
Keinginan untuk menengok Ibu baru terjadi hari Ahad, 15 Agustus 1993, sore hari. Saya bersama dua orang kakak saya menengok Ibu di Rumah Sakit. Sayangnya, ketika itu Ibu berada di ruang perawatan yang tidak mengizinkan untuk ditemui secara langsung. Saya hanya menatapnya dari balik jendela. Ibu tersenyum kepada saya. Dan itu adalah senyum terakhirnya yang saya lihat.

Kami kemudian keluar dari rumah sakit. Di saat itu, sebuah pesawat TV di sana sedang memutar video lagu milik Air Supply yang berjudul Goodbye. Seketika itu saya bercanda dengan kakak saya, di rumah sakit kok lagunya Goodbye, apa diharapkan penghuninya say goodbye atau meninggal dunia? Kakak saya menimpali, maksudnya goodbye untuk ke rumah sakit.

19 Agustus 1993
Kamis, 19 Agustus 1993, sekitar jam pukul 11.00, di mana ketika itu sudah memasuki jam pelajaran terakhir di sekolah. Tiba-tiba salah satu teman Bapak mengajar (Bapak saya dulu seorang guru), datang menjemput dan memintakan izin agar bisa pulang lebih awal. Saya pun pulang bersama teman Bapak tersebut. Dalam perjalanan saya hanya diberitahu kalau Ibu sudah pulang. Saya tidak tahu apa maksudnya. Saya hanya mengira Ibu sudah sembuh dan bisa pulang ke rumah.

Terbayang betapa bahagianya saya kalau saya tiba di rumah. Tapi ketika sampai, saya kaget melihat betapa banyak orang berkumpul di rumah. Saya masih belum tahu apa yang terjadi. Apa Bapak mengadakan syukuran atau apa?

Beberap saat kemudian, saat saya masih dalam kebingungan, diajak "mengungsi" ke rumah nenek yang ada di seberang jalan. Dalam hati, saya masih bertanya, ada apa? Sampai akhirnya saya menyadari kemungkinan terburuk, bahwa Ibu memang sudah "pulang". Ketika saya mendengarkan pengumuman berita duka lewat pengeras suara di masjid yang menyebutkan nama Ibu, air mata saya benar-benar tak terbendung. Beberapa kerabat saya pun datang untuk menenangkan.

Ternyata video lagu yang saya saksikan di rumah sakit (Goodbye-Air Supply) adalah isyarat dari Ibu kalau ia akan mengucapkan selamat tinggal kepada kami semua.

Saya kemudian minta di antar untuk "melihat" Ibu untuk terakhir kalinya, meski hanya jasadnya. Bapak terlihat begitu shock melihat kedatangan saya. Seorang Paman saya membukakan kain penutup dan membiarkan saya menatap wajah Ibu, sambil berujar "Lihatlah, wajahnya terlihat begitu cantik". Saya memang melihat sedikit senyuman di wajah Ibu. Namun Bapak tidak mengizinkan saya ikut ke upacara pemakaman.

Saya benar-benar kehilangan sosok Ibu. Sampai saat ini mata saya pasti berkaca-kaca jika mengingat saat tersebut maupun saat saya menatap fotonya, termasuk ketika saya menulis ini. Saya sendiri menyimpan satu buah foto kecil milik Ibu saya. Oh, ya meski selama hidupnya, Ibu belum pernah naik haji, tetapi kurang lebih 5 tahun kemudian, Bapak mendapat rezeki lagi sehingga berkesempatan "mewakili" Ibu untuk menjalankan ibadah haji. Maksud saya, Bapak naik haji untuk kedua kalinya, tetapi diniatkan untuk almarhumah Ibu.

Selamat jalan, Ibu. Kau akan selalu hidup dalam hatiku.

Sebagai penutup saya akan memuat lirik lagu milik Steelheart untuk mengenang Ibu.

Mama Don't You Cry

I fight the tears since you've been gone
And I stand in fear, can I make it on my own
Without your love to guide me thru my life

It's so cold at night without you here
And those gentle arms that held me close and dear
Oh we're all the same, we all live and die

You'll always be in my heart, oh Mama don't you cry
You'll always live in my dreams, oh Mama don't you cry

Every night when I close my eyes
I see a light and shadows of your face
It's always there like an angel over me

So many frozen years hangin' on my wall
A thousand words, I can hear them call
Oh I tried so hard but I could never say goodbye

You'll always be in my heart, oh Mama don't you cry
You'll always live in my dreams, oh Mama don't you cry

No one can kiss away the pain like you
No one like Mama, no one like you

(Solo)

You'll always be in my heart, oh Mama don't you cry
You'll always live in my dreams, oh Mama don't you cry
(You'll always be in my heart, oh Mama don't you cry - don't you cry)
(You'll always live in my dreams) in my dreams (Oh Mama don't you cry)
Oh Mama don't you cry


Written by M. Matijevic
As perfromed by Steelheart

Senin, 23 Februari 2009

After The Break-Up

One day after the break-up. She returned all the stuffs she had borrowed. A book, a magazine, a CD, and what made me happy was I finally got my MP3 Player back.

But when I tried to turn it on..., Damn! The battery was empty. I had to recharge it first. But it meant that I had to wait until the day after it. It took 15 hours to recharge the battery. I think i will buy some pairs of new alkaline batteries as a reservation.

At least I could fulfill my MP3 player with my favorite MP3 tracks. Yupp, most of it are the tracks from the 80's and 90's decade. That's my favorite of course. I grew up around the 90's decade, so I always love the musics of the decade.

Well, back to my broken relationship. A think it's time to walk to tomorrow. Maybe sometimes later I will start a new relationship with someone new, whoever she is (she could be you reading this). I just hope it will be better than ever.

Sabtu, 21 Februari 2009

Goodbye...

Sometimes, there's a time you must say goodbye // Though it hurts you must learn to try
("Here In My Heart" by Tiffany)

Yes. I've made a decision. My relationship with a girl has just broken. I think it will be better for us. 5 years of relationship were filled with a lot of fights and disagreements. So it will be better to break-up. I thought I never really understood what she wanted, and she never understood the way I wanted.

I believe both of us will find a better person. So, goodbye girl. Don't cry and don't feel sad. I know it's hard for both of us. But I will always be a friend of yours. Thank you for the time we have spent together. I never will forget it.

Jumat, 20 Februari 2009

Rencana...

Berhubung saya sudah terlalu sering melakukan posting blog dengan bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris, saya berencana dalam beberap waktu ke depan membuat posting dengan menggunakan.... BAHASA JAWA.....

Ya, tak seharusnya saya melupakan bahasa Jawa. Bagaimanapun dari saya kecil, sekolah SD, SMP, SMU sampai kuliah, saya lebih banyak berkomunikasi menggunakan bahasa Jawa. so, tunggu aja posting saya selanjutnya.

Senin, 16 Februari 2009

Jelang Balap 2009


Jelang balap MotoGP 2009, tak ada salahnya melakukan sedikit prediksi atau bahkan ramalan. Well, prediksi saya tentang musim 2008 yang saya harapkan lebih seru, ternyata salah. Pasalnya saat balapan kurang 3 seri saja, Valentino “The Doctor” Rossi sudah memastikan gelar juara dunia. Para rookie macam Jorge Lorenzo dan Andrea Dovizioso memang sudah mulai panas, sayang masih terksesan kurang konsisten. Bagaimana dengan musim ini?


Rossi, Casey, dan Dani

Persaingan utama tampaknya masih bakal didominasi oleh tiga rider ini. Pertarungan antara sang juara bertahan, Valentino Rossi, runner-up musim lalu, Casey Stoner, dan juara ketiga Daniel “Dani” Pedrosa tampaknya tetap bakal jadi pertarungan utama.

Rossi yang musim lalu, sempat tidak diperhitungkan membuat kejutan dengan tampil konsisten. Mesin Yamaha yang ia pakai memang masih kalah bertenaga dibandingkan Ducati milik Stoner, namun ia berhasil menutupinya dengan skill yang luar biasa. Bagi saya, Rossi masih pembalap dengan skill terbaik saat ini.

Stoner yang sangat difavoritkan musim lalu, justru berulang kali ketiban sial. Jatuh dan jatuh saat ia justru berada di posisi terdepan. Akibatnya, The Doctor pun dengan leluasa mengambil alih posisinya. Itu masih diperparah kondisi tangannya yang sebenranya masih cedera dan baru dioperasi akhir tahun lalu. Tapi, kini tentu tangan tersebut sudah pulih dan rasanya ia sudah tentu siap untuk bertarung lagi. Apalagi mesin Ducati terbaru diyakini bakal lebih dahsyat lagi.

Bagaimana dengan Pedrosa? Saat latihan pra-musim 2008, ia sempat mengalami cedera akibat terjatuh. Akibatnya, ia tidak bisa menguji mesin baru (dengan katup pneumatis) Honda secara keseluruhan. Ia juga tak percaya sepenuhnya dengan hasil pengujian rekannya, Nicky Hayden. Dari awal hingga pertengahan musim, Pedrosa lebih memilih menggabungkan mesin lama (katup pegas) dengan rangka motor tahun 2008. Hasilnya, tidak mengecewakan. Ia menjadi pembalap paling konsisten selama separuh musim. Bahkan untuk pertama kalinya, dalam keikutsertaannya di kelas tertinggi, Pedrosa bisa memimpin klasemen sementara.

Sayang, Dani terjatuh saat seri Sachsenring, Jerman. Sesudah itu prestasinya jadi angin-anginan. Ia bahkan sempat absen saat seri Laguna Seca., AS. Hal ini masih diperparah buruknya performa ban Michelin yang ia pakai. Ia pun memilih berganti ban Bridgestone di seri-seri akhir. Di seri-seri akhir itu pula, ia resmi mengganti motornya dengan mesin baru dengan katup Pneumatis, sayang belum sepenuhnya sempurna. Kini kita tunggu, apakah Dani sanggup menyamai Alex Criville sebagai satu-satunya pembalap Spanyol yang bisa menjadi juara dunia di kelas tertinggi, sekaligus menyejajarkan dirinya dengan The Doctor sebagai pembalap yang bisa menjadi juara dunia di 3 kelas berbeda.

Sekarang, mesin penumatis Honda tampaknya lebih siap bersaing dengan Yamaha dan mesin desmodromic milik Ducati. Jadi kita tunggu pertarungan ketiganya musim ini.

Lorenzo dan Dovizioso

Pembalap lain yang harus diwaspadai oleh 3 pembalap terbaik musim lalu adalah Jorge Lorenzo dan Andrea Dovizioso. Lorenzo membuktikan kelasnya sebagai pembalap dengan kemampuan hebat dan juga pantang menyerah. Ingat, saat ia dibekap cedera, ia masih nekat ikut balapan meski saat turun dari motor harus dipapah dan naik kursi roda di atas podium. Didukung mesin Yamaha yang makin OK, Lorenzo bisa jadi ancaman tersendiri. Apalagi bukan rahasia kalau Lorenzo dikenal tidak akur dengan rekan senegaranya, Dani Pedrosa.

Nama Dovizioso juga tak bisa diremehkan. Musim lalu, ia hanyalah pembalap di tim satelit Honda, yang tentu saja fasilitasnya tak sebaik tim pabrikan. Namun, ia berhasil mengungguli prestasi pembalap tim inti yang juga mantan juara dunia 2006, Nicky Hayden. Musim ini, Dovi resmi digaet oleh Repsol Honda untuik mendampingi Dani Pedrosa. Dengan dukungan teknis dan mesin terbaik milik Honda, rasanya tidak mustahil Dovi meraih prestasi terbaik. Rasanya ingin saya melihat Dovizioso kembali berduel dengan musuh lamanya di kelas 250 cc, Lorenzo.


Nama lain

Nama lain yang patut dijadikan kuda hitam adalah Toni Elias, Sete Gibernau, Nicky Hayden, dan Loris Capirossi. Elias kembali ke tim lamanya, Honda Gresini di mana di situ dulu ia meraih prestasi terbaiknya. Sementara Hayden, kini mendampingi Stoner di Ducati. Juara dunia 2006 ini memang harus dilihat seberap cepat dia beradaptasi dengan motor barunya. Kalau ia sanggup beradaptasi dengan baik, bukan tidak mungkin ia kembali tampil konsisten dan kembali merebut gelar juara dari mantan rekan satu tim-nya di Repsol Honda tahun 2003, The Doctor.

Sementara itu pembalap veteran Sete Gibernau, kembali ke lintasan setelah tahun lalu memilih pensiun dan berada di belakng layar. Kenapa ia patut diperhitungkan? Ingat Gibernau adalah sosok dibalik pengembangan Ducati. Faktor pengalamannya juga tak diragukan lagi. Sekarang tinggal, kita lihat apakah “kutukan” yang pernah ditimpakan oleh Rossi masih manjur musim ini> Ingat juga di musim 2004, Rossi sempat menyumpahi Gibernau bahwa Gibernau tak akan menjuarai satu seri sama sekali.

Bagaiaman dengan Capirossi? Pembalap paling toku di MotoGP ini, tampaknya masih tanda tanya mengingat motor Suzuki-nya tak sebaik para pesaingnya.


Rookie

Dari sekian banyak rookie yang bertarung musim ini, layak disebut dua alumni 250 cc, Mika Kallio dan Yuki Takahashi. Sayang memang, Alvaro Bautista dan Marco Simoncelli, yang saya anggap dua pembalap terbaik di kelas 250 cc musim lalu masih harus bertarung di kelas 250 cc.

Kallio memang sempat memimpin klasemen sementara kelas 250 cc musim lalu. Ia dengan cerdik memanfaatkan keteledoran Bautista dan Simoncelli yang sering bersenggolan dan terjatuh. Sayang di seri-seri akhir, ia tampak angin-anginan. Ketika itu, faktor motor yang jadi penentunya. KTM miliknya kalah bersaing dengan Aprilia dan Gilera. Tapi kini, di kelas tertinggi, Kallio bergabung dengan tim satelit Ducati, di mana motor Ducati memang dikelnal dengan power yang luar biasa. Tinggal menunggu, apakah ia sanggup beradaptasi atau tidak.

Takahshi setali tiga uang dengan Kallio. Ia terlihat kurang konsisiten saat berlaga di kelas 250 cc dan bahkan lebih parah karena hanya sanggup bertarung di papan tengah. Mudah-mudahn saja kehadirannya untuk mengisi posisi Dovizioso bisa mendongkrak prestasinya.