Jumat, 25 April 2014

Xubuntu 14.04 LTS aka Trusty Tahr : A Review and A Little More ...


About a week ago, Ubuntu finally announced the availability of the newest release, Ubuntu 14.04. codenamed Trusty Tahr, which was then followed by its offcial variants including Kubuntu, Xubuntu, and Lubuntu. Well, I have googled through many sites but I found many of them gave a review on Ubuntu, but only a few gave a review about Xubuntu. So, for now I’d like to give a little review about it, based on my own experience of course..

About Xubuntu itself

Xubuntu is a derivative of Ubuntu which is targeted to be a lightweight Linux distro to be used on a computer with a low hardware specification. So it uses the lightweight XFCE desktop (Xubuntu claimed that the word comes from XFCE+Ubuntu) combined with some lightweight apps like Abiword and Gnumeric intead of LibreOffice. Xubuntu 14.04 is also a Long Term Support release, which means we will get any updates and supports for a longer period. But unlike Ubuntu 14.04 which will be supported until the next five years, Xubuntu will only officially be supported for three years (it means until April 2017). But three is more than enough. 
            

My own experience : Smooth and Easy

Now, it’s time to write my own experience. When I used it for the first time, I think it run smoothly on my netbook with Intel Atom Nxx Processor and 1 GB RAM. It consumed only about 20% (about 200 MB) of RAM when it’s idle while its CPU usage is about 3% - 17%. It’s lightweight enough.

I also like the appearance of Whisker Menu applet as the default menu. Whisker is really cool (compared to that old school classic menu). I customized it so it’s much like a traditional Windows XP menu by dragging its default panel to the bottom now. It's of course easy to use, even for them who just migrated from Windows.
My customized Xubuntu Trusty Desktop


Problems (and solution)

Nothing is perfect. Here are a few problems I found in Xubuntu 14.04:

Brightness control did not work

I couldn’t set the brighness level using the keyboard brightness button control. It never happened on the previous Ubuntu versions. Fortunately, I found a solution by doing these steps:

1. Open the file in /etc/default/grub (you must use mousepad as root to do this) and find this line

GRUB_CMDLINE_LINUX_DEFAULT="quiet splash"

2. Edit it like this

GRUB_CMDLINE_LINUX_DEFAULT="quiet splash acpi_backlight=vendor"

3. Save the changes you have made, nad then open terminal.
4. Then type this command:

$sudo update-grub

5. Reboot


The default maximum brightness level is too damn high

After the brightness control was solved, I found another problem. The default brightness level  is too damn high and even it was always reset to its default after reboot. And thanks Google for getting me to the right user who faced the same problem to solve it. Just follow the steps:
1.  Open the file in /etc/rc.local (as root)
2.  Before the Exit=0 line, add this line:

echo X > /sys/class/backlight/intel_backlight/brightness

Replace X with the desired value. In my netbook, value of X varies from 0 to 13046. It can be different depending on your graphic cards

3. Save it and reboot

Screen did not turn on after a suspend from a laptop lid

Here is another problem... My netbook’s screen did not turn on after being suspended on a laptop lid, so I had to reboot it.. Till now I can’t still find the solution yet.. Maybe I really have to wait

Well, I think that’s all my review for Xubuntu 14.04. Overall it’s a near perfect Linux desktop for you who wants to feel the new updated Ubuntu softwares without needing to use your computer’s resources for too much.

Jumat, 05 Juli 2013

My favorites on Superman

Setelah sekian lama saya memendam hasrat, akhirnya hari Senin kesampaian juga keinginan untuk menyaksikan film Superman terbaru, "Man Of Steel". Film ini merupakan reboot cerita Superman, yang menampilkan Henry Cavill sebagai bintang utamanya.

Ngomong-ngomong soal Superman, ada beberapa pemeran karakter dalam cerita Superman yang jadi favorit saya.. And here they are..

Pemeran Superman/Clark Kent favorit : Christopher Reeve (Superman Movie I-IV)..
Sepertinya mendiang Reeve masih menjadi yang terbaik yang sanggup memisahkan karakter Superman dan Cark Kent
Pemeran Jonathan Kent Favorit : John Schneider (Smallville)
Jonathan Kent yang bijaksana yang mengajari Clark menjadi manusia diperankan begitu apik oleh Schneider. Bahkan Kevin Costner pun kalah apik.
Pemeran Martha Kent Favorit : Annette O'Toole (Smallville)
.....
Pemeran Perry White Favorit : Lane Smith (Lois and Clark : The New Adventures of Superman)
Smith menjadi Perry White yang paling melekat di benak
Pemeran Lois Lane Favorit : Erica Durance (Smallville).. She is the hottes Lois Lane ever... meski jujur saya merasa Lois Lane versi Durance mirip dengan Lois versi Teri Hatcher (Lois and Clark).
Pemeran Lana Lang Favorit : Stacy Haiduk (Superboy). Kristin Kreuk boleh lebih cantik, tapi sosok Haiduk sebagai Lana terus melekat di bernak saya
Pemeran Lex Luthor Favorit : Michael Rosenbaum (Smallville)
Lex Luthor yang paling komplit jahatnya...

Jumat, 14 Juni 2013

Safe

I felt safe whenever you were near
I felt happiness when you appeared
A feeling I couldn't describe
When you were by my side

You brought me joy when I was sad
You came and made me feel so glad
Then you gave me hope
And strength to cope

How I wish you would feel it too
All the things you never knew
How I wish could have it disguised
But all are seen in the look of my eyes


Kamis, 06 September 2012

Biaya Windows vs Biaya Linux

Baru-baru ini saya iseng-iseng mencari tahu harga software Microsoft original atau asli di Forum Jual Beli yang saya ikuti. Yang saya cari tentu saja sistem opeasi dan aplikasi perkantoran yang sesuai dengan spesifikasi netbook yang saya miliki.

Saya kemudian mencari tahu harga dari Microsoft Windows XP SP3 dan Windows 7. Hasilnya, harga Windows XP berada dalam kisaran Rp 325.000,00 s.d 400.000,00. Sementara Windows 7 berada dalam kisaran harga Rp 450.000 hingga Rp 800.000. Sengaja saya cari harga untuk versi OEM yang memang paling murah biaya lisensinya (meski saya sendiri tidak tahu apakah penjualan Windows OEM secara terpisah dengan pembelian PC/Laptop baru melanggar hukum atau tidak). Sementara untuk harga aplikasi perkantoran Microsoft Office 2010 yang paling murah yaitu edisi Home & Student dijual dengan harga sekitar Rp 600.000,00.

Jadi kalau saya menginginkan sistem operasi Windows dan Microsoft Office original untuk netbook saya harus mengeluarkan biaya antara Rp 900.000,00 sampai Rp 1.400.000,00. Biaya yang ternyata hampir separuh dari harga netbook saya. Belum lagi jika saya harus membeli aplikasi semacam CorelDRAW atau Adobe Photoshop yang harganya mungkin lebih mahal dari harga netbook saya.

Sementara jika saya memilih menggunakan GNU/Linux seperti Ubuntu atau Linux Mint, saya bisa mendapatkan sistem operasi cukup dengan beberapa puluh ribu rupiah saja. Kalau ingin mendownload sendiri, mungkin saya hanya menghabiskan biaya sekitar Rp 50.000,00 saja. Sementara kalau malas mengundih sendiri, saya bisa membeli ke penjual CD/DVD Linux (Belakangan saya juga mencoba peruntungan di bisnis yang sama.. hehe) dengan kisaran harga Rp 5.000,00 - Rp 20.000,00 saja.

berbeda dengan Windows yang dalam keping CD/DVD-nya hanya menyediakan sistem operasi plus aplikasi dasar., dalam satu CD/DVD distro Linux biasanya telah dilengkapi dengan berbagai aplikasi penting sehar-hari seperti perkantoran (Office), internet, multimedia, dan grafis (baik penampil maupun pengolah yang di sistem operasi berbayar harus dibeli terpisah). Jika masih butuh aplikasi tambahan saya dapat menambah sendiri dengan mengunduhnya secara gratis dari repository internet atau kalau malas, saya bisa membelinya dengan harga sekitar Rp 100.000,00 saja.

Well, ternyata memakai Linux jauh lebih hemat dan tetap legal,,,




Kamis, 02 Agustus 2012

Awal yang baru

Ya, sejak beberapa hari lalu saya resmi mengundurkan diri dari perusahaan tempat saya bekerja selama ini. Mungkin terdengar nekad karena saya sama sekali belum mendapatkan pekerjaan baru. Meski kalau boleh jujur, saya sebenarnya masi ingin bertahan di sana untuk beberapa waktu. Tapi sesuatu hal telah membuat saya mau tidak mau memang harus meninggalkan kantor tersebut.

Sebuah masalah kecil yang terjadi sebulan sebelumnya telah melebar terlalu besar, di mana saya merasa menjadi pihak yang paling disalahkan. Beban saya yang paling berat di antara teman-teman lain yang ikut dianggap bersalah. Ditambah kenyataan beban saya justru ditambahi dengan memiliki dua tanggung jawab yang sama besarnya, padahal beberapa bulan sebelumnya pihak atasan menyatakan kalau beban saya dikurangi dengan lebih berfokus ke satu tanggung jawab saja. saya merasa tak lagi diperlakukan selayaknya manusia. 

Saya pun terus-terusan menjadi korban kerasnya kata-kata dan amarah atasan saya, Saya tahu...saya tak sanggup lagi. Puncaknya ketika saya mengajukan permohonan izin baik-baik justru dianggap sebagai ketidakniatan saya untuk bekerja, saya merasa sudah waktunya saya pergi. Sudah waktunya saya meninggalkan perusahaan yang menghalangi karyawan melaksanakan kewajibannya sebagai warga negara hanya demi laba perusahaan. Dan saya rasa kalimat terbaik yang bisa saya ucapkan adalah kalimat pengunduran diri.

Jujur, rasa sakit hati saya sedikit bertambah ketika tahu karyawan yang dianggap baik sebenarnya melakukan berbagai kecurangan. Jadi, saya semakin mantap meninggalkan tempat yang tak lagi menghargai kejujuran.

Kini, saya mencoba memulai hidup baru. Mencoba merintis untuk berwirausaha yang saya coba mulai dari berjualan pulsa. Saya pun masih punya angan-angan untuk mengembangkan usaha lainnya. Saya hanya bisa berusaha dan berdoa sekuat tenaga agar hasilnya barokah.

Rabu, 23 Mei 2012

Installing Xubuntu 12.04 on HP Mini 110-3159 Netbook

A few days ago I decided to buy a new netbook when there was a computer expo in this city I currently live. At first, I actually wanted to buy a new hard disk drive for my old Pentium IV PC. But it seemed that I can only get a secondhand HDD, so I decided it's time to buy something new so I can easily satisfy my hunger of exploring computer system.

Why a netbook? The answer is simple. I didn't want to spend too much money. Despite the fact that netbooks have no optical disc drive, but it's no secret that netbooks are less expensive. So I tried to find the cheapest netbook, the branded one of course. And I guessed I was lucky when a counter shop offered a branded netbook with a really low price. It might be absolutely a clearance sale but I didn't really give a damn about it.

And the netbook is HP Mini 110-3500 series. The hardware specifications are:
  • Intel Atom N570
  • 1 GB DDR3 SDRAM
  • 320 GB Hard Disk Drive
  • Card Reader
  • Wi-Fi
  • 3 USB slots
  • etc
It's something worthed I guess.

The netbook originally came with a Free-DOS, but the retailer offered me to install an illegal copy of Windows 7. At this time I pretended to be a computer novice, so I gave an agreement.

But when I finally arrived at home, I tried that Win 7 just a little. Then I booted Xubuntu 12.04 (Precise Pangolin) into my netbook from a USB Flash Disk. When I found that everything seemed to work fine, I erased that illegal OS and installed Xubuntu 12.04 on it.

Just like its live USB version who worked well, so did the installed system. Almost every hardware detected and worked perfectly. Not only the common hardwares like keyboard and display, the mobile modem, Wi-Fi adapter and the webcam also worked the way I wanted to. The only problem is that I can't use the touchpad to do a double click.

Well, just like my usual "hobby", I also customize the desktop. I deleted the second panel and replaced it with Cairo-dock. I also installed Screenlets to give my desktop some widgets.

Well, I guess it's enough for now. I'd like to say "don't be afraid to try to use GNU/Linux ".

Kamis, 05 April 2012

Forgive Me, A Review of Maher Zain’s New Album

I’ve begun to fall in love with Maher Zain’s music ever since the first time I watched and listened to his song “Insha Allah” (the original version not the duet version with Fadly “Padi”) from his first album “Thank You Allah”.  His first album was proved to be successful. When he announced that he would release a new album, my heart said “I can’t wait”. The album was preceded by his new single and video “Number One For Me". A song that is dedicated to all Mothers in the world. So when it was finally released, I  went to a CD store and bought his new album, entitled “Forgive Me”.

Well, unlike his first album, which had many soul and hip hop elements, this album is more pop-oriented though you can still find Arabian sound in songs like “Mawlaya” and “Assalamu Alayka”. Some songs even have a universal theme. Songs like “Number One For Me” or “Freedom” (a single which had been released many months ago) seem to be an evidence which I believe it will also attract the non-Moslem listeners.

In this album, you might not find an emotional ballad like “Insha Allah” but there are still many beautiful songs to listen to like the first track “Ku MilikMu” (an Indonesian interpretation of “I Love You So”) and the title track “Forgive Me”. The song “Paradise” seems like a sequel to “For The Rest Of My Life” and “Masha Allah” seem to be a sequel to “Baraka Allah” from his first album. There is also a song entitled “So Soon" which almost makes me cry when I read the lyrics cause it reminds me to my late parents.

I almost forget one thing. I find an interesting fact in every Maher Zain’s album. Zain is a Moslem and his albums contain Islamic music but not all the musician involved in his albums are Moslems. He often works with Moslem musisian like Billal Hajji (who also works with Backstreet Boys and Lady Gaga) and Mohammad “Moh” Denebi (who works with Michael Learns To Rock), but most musicians work with him are not Moslems. For example you can find Crister Jansson (who often works in Roxette’s albums) playing drums here. You can also find some Non-Moslems backing musicians playing strings and other instruments.

Overall, this album is a nice album. I may give four of five stars.

Jumat, 10 Februari 2012

Thank You, FOSS

In my previous post, I've told a story about a prize I've won in the offfice I'm working. So this time I'd like to express my thank you's ...

First of all, I'd like to say "Alhamdulillah". Thanks to Allh for all the blessings given to me.

Next, to my beloved and loving late parents, my late Dad n my late Mom, thank you for everything you ever taught me.

I'd also like to thank to the rest of my family for all their supports.

A special thanks also goes to my beloved and loving girlfriend for all her love to me..

Last but not least, though it might sound a little strange, but I'd really really like to thank Free/Open Source Software aka FOSS for becoming my idea to win the prize...

Selasa, 07 Februari 2012

Alhamdulillah

Ketika saya masih duduk di bangku SD, oleh pihak sekolah saya termasuk paling sering diikutkan berbagai lomba yang berkaitan. Mulai dari lomba bidang studi, lomba pelajar teladan, dokter kecil dan sebagainya. Mungkin karena saya dianggap sebagai siswa paling pintar. hehe.

Yang paling berkesan adalah ketika saya memperoleh Juara II dalam lomba bidang studi Matematika tingkat kecamatan yang diselenggarakan Tim KKN Universitas Diponegoro. Selain sebuah piagam dan piala (sayang pialanya tidak bisa saya miliki secara pribadi karena diminta oleh pihak sekolah), saya juga memperolah berbagai hadiah alat tulis.

Di lain waktu saya berhasil menjadi Juara I lomba Matematika tingkat kecamatan. Sayang, ketika bertanding di tingkat kabupaten saya bahkan tidak masuk tiga besar. Maklum saja karena saya terlalu lama mikir padahal saya harus mengerjakan 100 soal. Hehe.

Ketika beranjak remaja, terutama ketika kuliah, saya sering iseng ikut berbagai kuis maupun berbagai undian. Sayang, tak ada satupun hadiah yang nyantol. Ketika salah satu produk sabun mandi memberikan hadiah langsung berupa uang tunai di dalam sabunnya, saya pun ikut-ikutan membeli dengan harapan siapa tahu dapet. Sayang seribu sayang, tak ada satu lembar hadiah pun yang saya dapat. Nasib. Untungnya saya memang tak terlalu memikirkan saya bakal menang atau tidak.

Cerita berlanjut akhir tahun lalu, ketika kekasih saya, yang kebetulan bekerja di kantor yang sama dengan saya, memberitahu saya bahwa pihak direksi mengadakan lomba/sayembara dengan memberikan ide/masukan untuk memajukan perusahaan. Ya, saya nyaris memutuskan untuk tidak mengikuti lomba tersebut meski hadiahnya lumayan.. Bukan hanya karena saya sedang tak ada ide, tetapi juga karena saat itu saya sedang terbaring sakit. Tapi menjelang deadline penyerahan usulan, saya berubah pikiran dengan memutuskan untuk ikut lomba. Saya mencoba memikirkan sesuatu yang tidak dipikirkan orang lain. Meski saya ikut, saya tetap tidak terlalu berharap untuk menang agar saya tidak kecewa.

Beberapa hari lalu, para karyawan yang mengajukan usulan diminta untuk mempresentasikan gagasannya di hadapan tim penilai. Saya pun dengan persiapan seadanya pun ikut melakukan presentasi. Ketika keesokan harinya saya menanyakan ke calon istri saya, saya baru tahu jika salah satu anggota tim penilai adalah Bayu Krisna, seorang motivator kondang yang selama ini saya sering dengar berita atau iklan seminarnya. Walhasil, saya kaget dan agak pesimis bisa menang.

Tapi ternyata di luar dugaan. Hari Senin pagi muncul gosip di kantor kalau saya adalah salah satu pemenangnya. Saya tentu saja tak langsung percaya karena belum ada pengumuman resmi. Namun feelin kalau saya menang makin kuat ketika saya hendak makan siang, saya berpapasan dengan direktur, dan beliau menyapa saya. Sesuatu yang sangat jarang terjadi.

Akhirnya kepastian saya menang atau tidak baru terjadi ketika manajer saya melakukan meeting dengan bagian saya. Di akhir meeting beliau tiba-tiba menyalami saya sambil mengucapkan selamat karena saya menjadi juara kedua.

Well, dari apa yang terjadi, saya mulai merasa saya tidak berbakat memenangi undian. Saya lebih berbakat memenangi sebuah kompetisi yang membutuhkan pemikiran.

Dan, saya tak lupa bersyukur kepada Allah seraya mengucap Alhamdulillah...


Sabtu, 12 November 2011

For you, the girl from the rainbow

It would be a lie if I told you I didn't have that feeling for you anymore. Though I'm here with her, and you, on the other side, are also with him, honestly I can't get over you. There always was you, and there always will be.

You keep around in my mind. Sometimes I still wish I could hold you, I could kiss you... But I know I can't...

Senin, 24 Oktober 2011

Super Sic: Dalam Kenangan (20 Januari 1987 - 23 Oktober 2011)


Salah satu senyum terakhir Marco "Super Sic" Simoncelli

Tulisan ini hanya catatam kecil saya tentang salah satu rider terbaik di mata saya selain Kotaro Minami (Lho??)

2008

Saya mulai memperhatikan sepak terjang pembalap dengan nomor motor 58 ini di musim 2008, ketika ia masih berlaga di kelas 250 cc. Sang juara bertahan, Jorge Lorenzo, runner-up Andrea Dovizios, dan juga Alex de Angelis naik ke kelas MotoGP. Akhirnya terjadilah persaingan luar biasa antar pembalap berjuluk Super SIc ini dengan eks juara dunia 125 cc, Alvaro Bautista. Saya ingat betul persaingannya dengan rider bernomor 19 ini. Mereka berdua berulang kali terlibat insiden di lintasan. Naas bagi Bautista, ia kerap jadi korban keganasan gaya membalap Simoncelli. Hasilnya, si pembalap kribo ini berhak meraih gelar juara dunia di akhir musim.

2009

Berlanjut di tahun 2009. Super Sic meniru sahabat dekatnya, The Doctor, Valentino Rossi yang tak mau memakai plat nomor 1 meski menjadi juara bertahan. Sayang, ia harus absen di seri perdana karena cedera. Rupanya awal yg kurang baik juga berlanjut hingga akhir musim. Selain sempat dikenakan denda karena gaya membalapnya yang dianggap membahayakan, ia juga beberapa kali mengalam crash akibat berebut posisi terdepan dengan Bautista. Kesalahan konyol yang akhirnya dimanfaatkan oleh Hiroshi Aoyama dan Hector Barbera.

Ia pun dimusuhi publik Spanyol akibat rivalitasnya dengan Alvaro Bautista. Di seri Catalunya, Simoncelli terus-terusan disoraki "huuu" setiap melewati garis start. Puncak "kesialan" Super Sic di musim 2009 terjadi di seri akhir, Valencia. Ia sebenarnya punya peluang mempertahankan gelar juara dunianya karena berhasil memimpin di depan, sementara pesaing terdekatnya (sekaligus pemimpin klasemen sementara), Aoyama, justru membuat kesalahan dengan kehilangan kendali motornya sehingga nyaris tak mendapatkan poin. Sial, Super Sic justru terjatuh dan gagal finish. Gelar juara dunia pun direbut oleh Aoyama.

2010

Super Sic naik ke kelas MotoGP bersama tim Honda Gresini. Sayang musim perdananya tak berjalan sesuai harapan saya yang menganggap dia adalah "The Next Valentino Rossi". Tak satu podium pun ia raih, Finish terbaiknya hanya posisi 4. Di akhir musim, ia menempati posisi 8.

2011

Kali ada yang berbeda dengan Simoncelli. Meski bergabung dengan tim satelit Honda, ia mendapat spek motor yang sama dengan motor milik Repsol Honda. Lebih unik lagi, ia kali ini berpartner dengan salah satu rivalnya di kelas 250 cc, Hiroshi Aoyama.

Sayangnya, gaya membalapnya tak juga berubah. Ia pun mendapat keluhan dari Jorge Lorenzo dan pembalap lainnya. Keluhan ini seolah terbukti ketika ia mengalami insiden dengan Dani Pedrosa di Le Mans yang menyebabkan Dani mengalami cedera parah. Super Sic pun harus rela mendapat penalty.Bahkan Dani pun terkesan enggan memaafkan Simoncelli dengan menolak uluran jabat tangannya.

Namun ia tetap menunjukkan bahwa dirinya adalah pembalap hebat. Meraih pole position di Catalunya dan Assen, juga berhasil meraih podium di Ceko dan Phillip Island.

23 Oktober 2011

Finish di posisi kedua di Phillip Island, Australia, membuat Super Sic berkeinginan untuk naik podium lagi di 2 seri tersisa. Sayang, takdir berkata lain. 23 Oktober 2011, di Sepang, Malaysia. Ia terjatuh. Naas, ia juga terlindas oleh Colin Edwards yang tak bisa menghindari tabrakan. Helm yang ia kenakan pun terlepas. Seri Sepang akhirnya dibatalkan dengan alasan tim medis sedang berusaha menanganinya. Namun, Tuhan berkehendak lain. Ia akhirnya meninggal akibat cedera parah di leher, kepalam dan dada,

Ya, setelah Daijiro Kato di tahun 2003 (yang secara kebetulan juga membela Honda Gresisni), Shoya Tomizawa di tahun 2010 (kelas Moto2), kini MotoGP kembali kehilangan salah satu rider terbaiknya, #58, Marco "Super Sic" Simoncelli.

Selamat jalan Super Sic. Kini kami tak akan lagi bisa melihat gaya "ugal-ugalan"-mu di sirkuit. Mungkin #58 kini akan berdampingan dengan #74, #48, dan #46 yang tak boleh dipakai pembalap lain sampai kapanpun.

So, farewell Super Sic. You're still one of the best rider ever.. May you rest in peace.

Caio Super Sic..

Sabtu, 30 Juli 2011

Selamat Jalan Bapak


Sebuah telepon dari adik di Ahad pagi itu benar-benar mengejutkanku. Air pun jatuh dari mataku. Aku tak menyangka Ahad seminggu sebelumnya adalah pertemuan terakhirku denganmu. Meski aku tahu dari dulu hari itu akan datang, tapi aku tak pernah menyangka hari itu akan datang secepat ini. Rasanya hampir tak percaya kau telah tiada. Jujur, rasanya bayang dirimu selalu ada di setiap sudut rumah.

Bapak, meski aku sedih karena kau tak ada lagi di sisiku, kuingin kau tahu aku ikhlas melepasmu. Di lain sisi bahagia karena Allah mengizinkanmu melihatku lulus kuliah dan mendapatkan pekerjaan. Satu hal yang selalu kuharapkan dari dulu karena Ibu, yang telah lebih dulu dipanggil oleh-Nya, pun tak sempat melihatku lulus SD. Aku juga bahagia karena engkau pergi dalam keadaan tenang, bukan dalam keadaan sakit. Aku yakin kau tak merasakan sakit saat kau pergi meninggalkan kami. Dan aku juga yakin kau bisa tenang di sana karena sebagian besar anak-anakmu telah menjadi orang,

Bapak, meski kini tak kan lagi kudengar suaramu dan tak kan lagi kulihat wajahmu, aku tahu semua nasehat dan petuahmu akan selalu mendampingiku. Kuharap engkau telah memaafkan kesalahan kami, anak-anakmu semua.

Bapak, aku hanya bisa mendoakan engaku dan Ibu dari sini. Semoga Allah menerima amal ibadahmu dan mengampuni semua dosa-dosamu. Aku juga berdoa engkau bertemu Ibu di sana dan berdua bisa tersenyum melihat kami di sini. Aku berdoa engkau mendapat tempat terbaik di sisi-Nya. Selamat jalan, Bapak, Kau selalu hidup di hati kami.

Sabtu, 18 Juni 2011

Toto, Saigon Kick, and Dewa 19

What's the matter with these three bands? Is there any similarity? The answer is yes. These three bands have ever made some changes in their lineup, especially their singers.

Toto
First, I'd like to talk about Toto. Their first and original frontman was Bobby Kimball. After Kimball left, he was soon replaced by Fergie Fredriksen who left after releasing one album with Toto, Isolation. Toto was then joined by Joseph Williams (son of famous film composer, John Williams).

When Williams was finally forced to leave after losing his voice due to his habits of partying and drug addiction, Toto actually planned to have Kimball back, but their record company forced them to hire a South African named Jean-Michel Byron as their new lead vocalist. This idea was proved to be disaster. In my opinion, Byron is actually a great singer. He could sing well. But his on-stage antics had me see that he wasn't a right front-man for Toto. Byron was let go after touring to promote their greatest hits album.

One unique thing about Toto is despite the fact that they had a lead vocalist, their guitarist, Steve Lukather and their two keyboardists, David Paich and Steve Porcaro, also sometimes sang lead on some tracks. Even some of their well-known hits were not sung by their lead singer. For examples, Africa (sung by Paich), Rosanna (sung by Lukather and Kimball), and I'll Be Over You (sung by Lukather). So, when Byron left, an extreme decision was made. They continued the band with Lukather handling most of the lead vocal duties (which can be heard on their "Kingdom of Desire" and "Tambu" album) before Kimball returned on "Mindfields" and recently Toto reunited with Williams for some shows.

Saigon Kick
The next band I'd like to talk about is Saigon Kick. The band originally consisted of lead vocalist Matt Kramer, guitarist Jason Bieler, bassist Tom Defile, and drummer Phil Varone. After releasing two albums, singer Jason Bieler decided to leave. But instead of recruiting a new singer, Bieler took over the lead singer and guitarist duties before the finally broke up and reunited with Kramer.

Dewa 19
The last, let's talk about this band from Surabaya. The original line-up of Dewa 19 was Dhani on keyboards, Erwin on bass, Wawan on drums, Andra on guitars, and Ari Lasso on vocals. Just like Dhani's heroes, Queen and The Beatles, which had more than one lead singer, Dhani also sometimes sang lead or made a duet with Ari. When Ari left (or some said he was fired cause of drugs addiction), he was replaced by Elfonda "Once" Mekel. But still, Dhani took the lead vocal duty sometimes. A few months ago, it was announced that Once also left Dewa. So, will Dewa take same direction like Toto and Saigon Kick.

Minggu, 13 Maret 2011

I Still ...

It's been more than four months. But sometimes I still feel the pain, I still feel hurt. The pain of being betrayed. And still I see your smile as the most beautiful smile I've ever seen. Still I feel your face is the prettiest face I've ever known.
I still feel that I miss you. I still feel that I can't seem to fall in love again. I can't seem to find someone like you. Cause there's always your shadow around me. There's always an image of your smile somehow.
I still feel that I can't stand seeing you there with someone else. It's too hurt for me that I'd rather look down so you won't see my tears.
I don't know will I ever be with you or not but I don't hope for it anymore. I don't even know will I ever be able to get over you or not. Maybe if I really can't do it, I don't need to get over you at all.
I just know that I still love you..

Senin, 31 Januari 2011

Too personal? Maybe...

I know that some of my last posts seem too personal to write. It perhaps has this blog little "annoyed", but I don't think I have a better place to write in.

When I first created this blog, I didn't mean it to be a personal diary. I created it to  be a place to share my thoughts an opinions about anything  cause I actually also have a blog in Friendster that contains more personal stories. But, in these last few years, I rarely logged in to my Friendster account that it also made me rarely write something there.

But I still feel that I need to talk to someone. The problem is that I have no one to talk to. I have no one to trust. So I just put my personal stories here that are based on what happened to me. Are they too personal? Maybe... 

Kamis, 06 Januari 2011

Menggunakan Ponsel CROSS CB 83T sebagai Webcam di Linux

Berawal dari keinginan saya untuk memperlancar usaha sampingan berupa jualan pulsa ponsel/HP, saya memutuskan untuk membeli lagi sebuah handphone/ponsel baru. Nah partner usaha saya menyarankan agar menggunakan lebih dari satu nomor/operator untuk menjamin kelancaran transaksi pengiriman pulsa, di mana saat satu operator mengalami gangguan, saya dapat beralih menggunakan nomor dari operator lain. Minimal dua nomor dari dua operator berbeda.

Akhinya saya berpikir untuk menggunakan tiga nomor dari tiga operator sekaligus, yaitu dua operator yang masing-masing menawarkan tarif murah plus nomor dari satu operator yang saya anggap memiliki jaringan terluas dan terhandal. Nah, masalahnya saya merasa bakal sangat kerepotan bila harus membawa tiga ponsel sekaligus ke manapun. So, saya memutuskan untuk mencari ponsel dengan fitur dual on alias dual SIM Card. Yah, tak perlu ponsel bermerk terkenal, karena kebetulan ponsel dual on dari merk terkenal masih langka plus harganya relatif lebih mahal. So, rasanya tak ada salahnya saya membeli ponsel merk lokal buatan Cina yang belakangan makin membanjiri pasar ponsel di Indonesia.

Setelah mencari-cari dan melakukan survey harga, pilihan jatuh ke ponsel CROSS CB 83T. Dengan harga di bawah Rp 400 ribu, ponsel ini sudah dilengkapi dengan MP3 Palyer, video player, kamera digital, FM radio, plus TV analog. Nah, dalam manual yang disertakan, disebutkan pula bahwa kamera pada ponsel tersebut ternyata dapat juga dimanfaatkan sebagai webcam. Dalam paket penjualannya memang disertakan CD driver untuk modem maupun webcam. Namun seperti biasa driver yang disertakan hanya untuk sistem operasi Windows. Percobaan pertama di Windows berjalan lancar, lalu bagaimana dengan di Linux?

Gambar 1 Ponsel CROSS CB 83T

Ternyata, penggunaanya di atas Linux pun tidak susah. Bahkan jauh lebih mudah. Agar lebih jelas, ikuti langkah-langkah berikut:

Catatan:Tutorial ini menggunakan distro Xubuntu 10.04. Untuk penggina distro Linux lain, mungkin Anda perlu melakukan sedikit penyesuaian

1. Sambungkan ponsel dengan kabel data yang disertakan dalam paket penjualannya.
2. Sesaat kemudian dalam layar ponsel akan muncul 3 opsi penggunaan ponsel, yaitu Mass Storage, Webcam, dan COM port. Karena Anda akan menggunakannya sebagai Webcam, pilih opsi Webcam.
Gambar 2 Memilih opsi Webcam

3. Dari komputer Anda, buka terminal dari menu Accessories > Terminal.
4. Lakukan pemeriksaan untuk memastikan ponsel (yang difungsikan sebagai webcam) terdeteksi dengan baik oleh Linux dengan mengetikkan perintah berikut:

$ lsusb


Jika terdeteksi dengan baik, maka dalam terminal akan muncul keterangan seperti berikut:

Bus 002 Device 004: ID 0e8d:0004 MediaTek Inc. MT6227 phone
Bus 002 Device 001: ID 1d6b:0001 Linux Foundation 1.1 root hub
Bus 001 Device 003: ID 19d2:0031 ONDA Communication S.p.A. ZTE MF636
Bus 001 Device 001: ID 1d6b:0001 Linux Foundation 1.1 root hub

Sebenarnya kini ponsel siap digunakan sebagai webcam, namun untuk menggunakan webcam di Linux, Anda perlu menggunakan aplikasi tambahan, misalnya saja aplikasi Cheese. Jika belum terinstalasi, ketikkan perintah berikut untuk melakukannya:

$ sudo apt-get install cheese

Gambar 3 Proses instalasi Cheese di Terminal

Catatan: Jika Anda tidak terbiasa menggunakan command line interface, Anda dapat menginstalasinya melalui Synaptic Package Manager.

Selanjutnya, buka aplikasi Cheese dari menu Multimedia > Cheese. Dan selanjutnya Anda dapat menggunakan kamera ponsel CROSS CB 83T sebagai webcam.

Gambar 4 Aplikasi Cheese memanfaatkan kamera ponsel CROSS CB 83T sebagai webcam

Selamat mencoba!




Kamis, 09 Desember 2010

I Still Love You..

Is what I feel for you a real love? I don't know. All I know is that I'd like to see your face. I'd always love to see your smile, it might be the sweetest smile I ever saw. But after a little time, I found you hurt me, but I knew, I couldn't hate you. Yeah, I was hurt so that I didn't even wanna see your face, but I still didn't wanna hate you.

I finally decided to forgive what you did, though you never apologized, after knowing a little truth. Then I began to watch you from the distance again. I tried to smile when we met. I did anything to try to get closer to you again.

But something then seemed to go wrong. We could never be close enough. You tied your heart to someone else, who used to be my friend. I felt that it was so unfair. Why did it have to be him? Why it wasn't me? I'd done it before him? Yeah, I got mad at him. But when I saw your smile when you were near him, I knew, i had to let you go. Though I knew, I had to be hurt again. But once again, I didn't hate you for that. I never did, I never do, and I never even will hate you.

I'd even still love to see your smile. I'd still love to watch you from the distance. I always feel so glad whenever you're near me. I'm so glad that I can be close to you as friends. Sometimes I don't even care whether you'll be with me in the end or not.

Something in my heart then tells me the reason behind it all. I've kept my feeling too long that I can't easily let it go. But I don't wanna see you sad. I don't wanna se you cry. So decide to let it flow the way it should be. If our destinies our one, we'll be together in the end, no matter what. And I finally let you go anyway cause the truth is I still love you.

Kamis, 02 Desember 2010

Ku Ingin Kau Tahu

Ku ingin kau tahu meski engkau mungkin pernah menyakitiku, tak pernah sekalipun aku membencimu. Ku juga ingin kau tahu, aku merasa bahagia jika berada di dekatmu. Hatiku selalu tersenyum juika kulihat dirimu meski sekilas. Ku ingin kau tahu semua laraku seolah hilang ketika kulihat tersenyum padaku.

Mungkinkah aku masih memiliki rasa itu? Entah... Tapi ku tak ingin berharap kepadamu.

Rabu, 01 Desember 2010

Izinkan Aku Membencinya

Aku terlalu lama menunggu. Ku terlalu lama mencari dan akhirnya aku bertemu denganmu. Ku tahu ku telah jatuh hati kepadamu sejak pertama kali kau tersenyum kepadaku. Tapi kemudian kusimpan rasa itu. Sebuah kesalahpahaman bahkan akhirnya justru membuat kita jauh. Tak pernah saling tersenyum dan tak pernah bertegur sapa. Kau bahkan sempat membuatku sakit. Kucoba tersenyum, tapi kau bahkan tak pernah melihat ke arahku. Tapi, ku ingin kau tahu bahwa aku tak pernah membencimu, walau hanya sedetik pun. Walau sakit yang kurasakan begitu dalam.

Waktu pun berlalu. Aku merasa menemukan teman yang bisa membantu aku menggapaimu. Sayang, orang yang kupercaya sepenuh hati tersebut justru mengambil jalan lain dan meninggalkan aku. Seolah tak pedulikan perasaanku, dia mengambil jalannya sendiri menuju dirimu. Dia yang kini bersamamu. Aku akhirnya mengalah karena aku tak tega mengambil kebahagiaanmu bersamanya meski aku harus kembali sakit. Sekali lagi, aku sama sekali tak pernah dan tak akan membencimu.

Semula aku merasa seiring berjalannya waktu sakit itu akan hilang. Sedih itu akan lenyap. Tapi ternyata aku salah. Ternyata butuh lebih banyak waktu untuk menyembuhkan lukaku. Aku masih belum sanggup melihat kalian bersama. Aku tak keberatan bertemu denganmu. Tapi jujur aku aku masih sedikit berat bertemu dengannya. Dan rasanya terlalu sakit melihat kalian berdua. Yah, perasaan itu terlalu lama kusimpan dan akan sulit melepaskannya, meski aku tak lagi berharap kepadamu. Luka itu mungkin hanya akan sembuh jika aku bertemu dengan pengganti dirimu. Atau mungkin memang aku harus meninggalkan tempat kita bertemu untuk menghilangkan rasa sakit yang ditinggalkan.

Kau pernah memintaku untuk tidak memusuhinya, memintaku untuk tetep berteman dengannya, memintaku untuk tak menaruh dendam kepadanya. Aku akan menepati janji itu kepadamu. Tapi, kumohon izinkan aku untuk tak memaafkan pengkhianatannya. Dan izinkan juga aku untuk membencinya.

Minggu, 21 November 2010

Curhat..

Bukan ku tak rela atupun tak ikhlas dirimu bersamanya. Aku ikhlas asalkan engkau bahagia. Tapi caranya mendapatkan dirimu itulah yang sulit untuk aku ikhlaskan. Saat ini, hatiku mengatakan untuk mencari pengganti dirimu. Tapi, entah mengapa aku masih terus melihat bayangmu dalam pikiranku. Aku tak tahu apakah memang kita seharusnya bersama atau tidak. Aku hanya ingin kau tahu, begitu lama aku menunggu seseorang seperti dirimu, yang bisa buat aku jatuh hati, yang aku yakin akan sanggup membuatku tak bisa berpaling ke orang lain. Namun, rupanya kita tidak diizinkan untuk bersama. Dan kurasa ini yang terbaik untuk kita, paling tidak untuk saat ini.

Aku hormati keinginanmu. Aku tak akan memusuhi ataupun mendendam kepada dirinya, yang juga salah satu teman baikku, demi dirimu. Aku tak akan rela jika dia memperlakukanmu dengan buruk. Jika takdir berkata lain, biarlah ia datang pada saat yang tepat. Kalaupun memang takdr tak berpihak kepadku, aku tak kan menyesalinya. Hanya, sekali lagi aku yakin apapun itu, pasti yang terbaik untuk kita.